Pintu Darurat

Pintu Darurat

 

Seorang wanita muda berlinangan air mata menceritakan kisah pilu perjalanan rumah-tangganya. Ia tidak mengira, laki-laki pilihan hatinya memperlakukannya sangat buruk dari sejak awal pernikahan. Hidup menumpang di rumah orang-tuanya menjadikan sang suami bukannya malu karena belum bisa mandiri, namun justru membuatnya merasa berada dalam zona nyaman. Sekalipun tidak sesenpun uang dikeluarkan untuk menafkahi istri dan anaknya, ia merasa telah menafkahi mereka dengan bergantung pada pemberian orang tuanya yang memang selalu memanjakan anak-anaknya bahkan hingga mereka telah berumah-tangga. Tidak hanya itu, suaminya seorang pemalas, enggan bekerja dan menghabiskan hari-harinya bersama teman-teman geng-nya tanpa aktifitas yang jelas hingga larut malam dan itu terjadi hampir setiap hari. Sementara sang istri membantu ibu mertuanya berjualan di pasar untuk membelikan susu dan biaya sekolah anaknya.

Permasalahan tidak berhenti di sini, sang suami layaknya pemuda lajang, dan tanpa merasa berdosa terang-terangan berganti-ganti pasangan di luaran dengan beberapa wanita selingkuhannya. Jangan ditanya ibadahnya, ia bahkan hampir tidak pernah melaksanakan sholat. Perilaku ini diperburuk lagi dengan kebiasaannya memukul istri saat sedang marah. Puncaknya, sang istri ditendang dan dipukuli karena keinginannya membeli motor baru dengan uang istrinya tidak dipenuhi. “Bagaimana ia minta uang ke saya, sementara dia tidak pernah sesenpun memberikan nafkah pada kami” Ujar wanita tersebut dengan mata sembab dan terus berurai air mata.

 

Tidak Hanya Bermodalkan Cinta

Seorang suami mendatangi Rasulullah n seraya berkata, “Saya memiliki istri yang tidak menolak siapapun yang menggodanya”. Rasulullah n bersabda, “Ceraikanlah dia!” “Saya terlanjur cinta padanya dan berat ditinggal olehnya.” Kata orang tadi. Kemudian Rasul bersabda, “Jika demikian, tetaplah bersamanya.” Maksudnya, mempertahankannya, jika ia mampu mendidiknya. Allahu’alam.

 Sebesar apapun modal cinta yang dimiliki pasangan suami istri, namun jika dalam sebuah pernikahan tujuan-tujuan yang bisa diharapkan dari sebuah pernikahan itu tidak bisa diraih, lantas apalagi yang bisa diharapkan dengan mempertahankannya. Sementara, alih-alih mendapatkan pahala dari ibadah berumah-tangga, yang ada hanyalah dosa dan permusuhan. Sementara kalau memilih bersabar, kenyataannya kesabarannya tidak membuahkan kebaikan apapun, selain ia hanya bisa meratapi perlakuan buruk suaminya. Lalu apa pihannya, berhenti ataukah melanjutkan? Dalam suasana rumah tangga seperti itu hal utama yang bisa dijadikan pertimbangan adalah apakah pernikahan tersebut masih menyisakan kebaikan yang bisa diharapkan?

Salah satu unsur terpenting kebahagiaan pasutri terletak pada bagaimana setiap pasangan bisa mewujudkan kenyamanan jiwa, kehidupan ekonomi, hubungan sosial dan seksual yang kesemuanya itu mendapatkan ridla Allah dan bernilai ibadah. Sekalipun tidak bisa diraih seluruhnya, tapi setidaknya dalam banyak hal itu bisa terwujud, entah seberapapun capaiannya. Allahu’alam.

No Comments
Leave a Reply