• Jl. Bangak Simo km 6,5 Sambi Boyolali
  • 085647130213
  • arsada2016@gmail.com
DONATE NOW
In Dakwah

Menebar Kejujuran, Menuai Kebaikan

Dikisahkan, Abdul Qadir Al-Kilani remaja dikirim ke Baghdad untuk menuntut ilmu. Oleh sang ibu dia dibekali uang sejumlah 40 dinar dan dipesan untuk selalu berkata dan bersikap jujur. Dia pun dititipkan pada sebuah kafilah dagang yang bertolak dari Mekah menuju Baghdad. Ketika rombongan telah sampai di Hamadan, tiba-tiba mereka dicegat oleh kawanan perampok. Mereka pun merampas barang bawaan kafilah dagang.

Sejurus kemudian, salah seorang perampok menghampiri Al-Kilani dan bertanya, “Apa yang kamu bawa?” Al-Kilani remaja menjawab, “Aku membawa uang 40 dinar.”  Perampok yang bertanya tadi pun tak menanggapi serius dan meninggalkan Al-Kilani. Dia mengira Al-Kilani hanya bercanda saja.

Tetapi anggota perampok lain menghampirinya dan bertanya dengan pertanyaan yang sama. Al-Kilani pun menjawab dengan jawaban yang sama pula, “Aku membawa 40 dinar.” Akhirnya, Al-Kilani pun dibawa ke hadapan pemimpin perampok. Sang pemimpin perampok pun menginterogasi dengan pertanyaan yang sama pula.

Setelah mengetahui bahwa Al-Kilani remaja berkata jujur dan benar-benar membawa 40 dinar. Sang pemimpin perampok pun heran; kenapa anak ini berkata jujur padahal dia akan dirampok. Dia pun bertanya, “Kenapa kamu berkata jujur?” Al-Kilani  menjawab, “Ibu selalu berpesan kepadaku untuk selalu berkata jujur. Aku takut mengkhianiati pesan ibuku.”

Mendengar kejujuran Al-Kilani remaja, pemimpin perampok itu pun bergetar ketakutan. Dia pun berkata, “Kamu takut mengkhianati ibumu yang berpesan untuk selalu jujur, padahal aku telah mengkhianati janji Allah.”

Seketika itu juga sang pemimpin perampok tadi bertaubat dan memerintahkan untuk mengembalikan seluruh harta yang telah dijarahnya. Dia dan seluruh anak buahnya bertaubat di hari itu.

Menjadi hal yang langka

Demikianlah kejujuran Al-Kilani membuahkan hidayah bagi kawanan perampok. Demi mempertahankan kejujuran Al-Kilani tidak takut kehilangan 40 dinar. Padahal jika dinilai dengan rupiah, maka 40 dinar itu setara dengan Rp 81.600.000. Subhanallah, betapa nilai sebuah kejujuran lebih berharga dibanding banyaknya harta bagi seorang Al-Kilani.

Sebuah sikap yang sulit kita temui di zaman ini. Sebuah zaman yang penghuninya lebih memilih untuk menggadaikan kejujuran demi gelimangan harta. Lebih memilih berdusta, daripada kehilangan harta yang telah direngkuhnya. Sebuah ironi yang mau tak mau harus kita akui sebagai sebuah bukti akan merosotnya akhlak dan moral kita.

Mirisnya lagi, banyak ungkapan-ungkapan yang menyatakan jujur yo ajur. Maksudnya, orang yang berbuat jujur ya pasti malah hancur lebur. Sudah sedemikian parahkah?

Ah, memang demikianlah kenyataannya. Lihatlah seorang anak yang mencoba jujur ketika ujian di sekolah, tidak mau mencontek malah dimusuhi teman bahkan masyarakat. Seorang pegawai yang ingin jujur dan tak mau menerima suap, justru dibilang sok suci, sok kaya. Benarlah, hari ini kejujuran menjadi sebuah barang yang langka dan tidak mudah ditemukan.

Jujur membawa nikmat

Jika keadaan dan lingkungan tidak mendukung untuk berbuat jujur, lalu kenapa kita tetap harus bersikap jujur?

Sebagai orang beriman, harusnya pertanyaan tersebut harus kita tepis jauh-jauh. Karena Allah telah memerintahkan kita dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah [9]: 119)

Rasulullah saw juga memerintahkan untuk berbuat jujur.

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

Hendaklah kalian jujur karena kejujuran itu membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan itu membawa pada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai orang yang selalu jujur. (HR. Muslim)

Masihkah kita ragu untuk tetap berbuat jujur, jika ternyata jujur akan membuahkan kebaikan yang bermuara pada surga. Bukankah ini adalah puncak dari segala kenikmatan yang abadi.

Tinta sejarah juga telah menorehkan betapa kejujuran itu membuahkan keberkahan. Dari rahim seorang gadis yang tidak mau mencampur susu dengan air karena dilarang oleh Khalifah Umar lahirlah di kemudian hari seorang Umar bin Abdul Aziz.

Berkat kejujuran pula seorang budak yang diuji oleh Umar bin Khatab untuk menjual kambing milik majikannya, dan dia tidak mau, kemudian dia menjadi merdeka.

Buah kejujuran seorang Mubarak yang tidak pernah sama sekali mencicipi buah delima milik majikannya, lahirlah ulama hebat bernama Abdullah bin Mubarak.

Sebaliknya, jika tak mau jujur dan justru memilih jalan dusta. Maka bersiaplah kita akan menuju kepada keburukan. Rasulullah saw juga telah mengingatkan:

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Dan jauhilah atas kalian dusta, karena sesungguhnya kedustaan mengantarkan kepada keburukan. Sedangkan keburukan akan mengantarkan pada neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan berusaha berdusta, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta. (HR. Muslim)

Menerapkan kejujuran

Deretan kebaikan yang merupakan buah dari kejujuran telah kita ketahui bersama. Nah, tinggal diri kita mengaplikasikan dalam kehidupan kita. Lalu dalam hal apa sajakah kita harus jujur?

1. Jujur dalam berbicara

Inilah ukuran kejujuran yang paling mudah diketahui. Jujur dalam berbicara menjadi ukuran mudah seseorang ini benar-benar orang yang beriman ataukah tidak. Sebab, salah satu tanda kemunafikan seseorang adalah jika berkata dia dusta. Nah, jika seseorang jujur, maka dia menjadi orang yang terbebas dari munafik.

2. Jujur dalam bermuamalah

Dalam berinteraksi dengan orang lain pun kita harus menerapkan kejujuran. Baik dalam pergaulan sehari-hari, berjual beli, bekerja semua harus dilandasi dengan kejujuran. Karena dengan kejujuran, maka kehidupan kita akan disertai dengan keberkahan.

3. Jujur dalam berpenampilan

Banyak orang yang berpenampilan agar dinilai sebagai orang yang kaya, sehingga dia mengada-adakan apa yang sesungguhnya tidak dia miliki. Bukan berarti kita harus berpenampilan compang-camping untuk menunjukkan kemiskinan atau kezuhudan. Tetapi kita harus menampilkan apa adanya tanpa ada niat untuk dipuja orang sebagai orang yang kaya atau sebaliknya sebagai orang yang zuhud. Tetapi tampil dengan tidak dibuat-buat.

4. Jujur dalam berakhlak

Maksudnya dalam melaksanakan perintah-perintah agama kita harus jujur dan ikhlas. Perintah untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya misalnya, maka kita tidak boleh berdusta. Lisan kita berkata mencintai Allah dan Rasul-Nya, tapi amal perbuatan kita justru menyelisihi.

Masih hal-hal yang kita bisa menerapkan kejujuran di dalamnya. Tentu dengan senantiasa mengharap limpahan kebaikan dan keberkahannya. Karena semakin kita memegangi kejujuran, meski berat, maka pahala kebaikan akan semakin besar pula. Nah, mampukah kita memegangi kejujuran di zaman yang kejujuran semakin langka ini? Semoga. [abilfarisi]