• Jl. Bangak Simo km 6,5 Sambi Boyolali
  • 085647130213
  • arsada2016@gmail.com
DONATE NOW
In Dakwah

Karena Engkau Begitu Berarti

Kehidupan rumah tangga itu tidak hanya butuh cinta, seperti umumnya anggapan anak remaja. Bahkan cinta bukan satu-satunya yang bisa diandalkan. Tidak terletak pada wajah tampan dan cantik saja. Bukan pula soal hati yang berdegup dan diliputi getar-getar rindu ingin ketemu. Lebih dari itu semuanya, sebuah hubungan yang sangat panjang ini membutuhkan ‘komitmen’ dan pemahaman.

Bahasa Paling Rumit Sedunia

Ia memerlukan pasangan yang bisa mengerti dan mudah dimengerti. Para suami atau istri harus bisa memahami bahasa paling rumit sedunia, karena seorang orator sekalipun bisa menjadi gagu ketika di depan istrinya. Atau sebaliknya, semua dalil yang diungkapkan suami alih-alih membuat pasangannya nyaman, justru sang istri merasa diadili, dihakimi dan divonis bersalah. Seorang wanita paling cerewet sekalipun, terkadang kepiawaian bicaranya itu malah menjadi bumerang baginya, karena membuat sang suami merasa terlalu didikte, diatur-atur dan diintervensi kepemimpinannya. Lebih-lebih kalau pasutri itu hanya mengandalkan bahasa tubuh saja. Berharap pasangannya memahami dirinya, namun yang diperbuatnya sama sekali tidak bisa dipahami.Wa’iyadzubillah.

Semua ada saatnya

Maka, seorang istri yang bijak memahami dengan baik kapan ia berbicara dan kapan ia diam mendengarkan tanpa mengomentari apapun yang dikatakan suaminya. Kapan ia bercanda dan kapan ia menyikapi permasalahannya dengan serius. Kapan saatnya bersantai dan kapan waktunya bermesraan dan bercumbu. Kapan saatnya belanja kebutuhan bulanan atau sekedar menikmati suasana di luaran atau malahan hanya berdiam di rumah saja. Dia menguasai suasana pergaulannya dengan sang suami sangat baik.

Maka, seorang suami yang kepemimpinannya kuat, ia memahami dengan baik kegelisahan istrinya, bukan oleh berapa besaran uang belanja, namun dimengerti saat lelah fisik dan batinnya dengan semua pekerjaan yang ada. Ia menyediakan kedua telinganya untuk mendengarkan setiap kerisauannya, sebelum menyediakan solusi terbaik dari setiap permasalahan yang terjadi. Ia menjadi guru pada saat yang tepat di hadapan istri dan seluruh anggota keluarganya sebagaimana lazimnya sebuah keluarga bercengkrama dan bukannya tengah berlatih pidato di hadapan mereka. Ia menjadi teladan yang baik sehingga membudaya, karena setiap perilaku yang baik itu terpola dan selaras dengan tuntunan suri tauladan terbaik Rasulullah saw. Ia bisa menjadi imam yang baik, bersebab ia membangun rumah tangga di atas ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Bahwasanya tujuan utama—surga— tak dapat dicapai kecuali dengan menaati Allah l menjadikan Al-Qur’an sebagai undang-undang serta menjadikan sabda nabi-Nya sebagai perintah. Dan tidak ada jalan lain untuk mencapai ridha Allah dan surga-Nya.

Keberadaan dan ketiadaannya begitu berati

Ada istilah, sebelum menikah yang terlihat hanyalah kelebihannya. Sesudah menikah, mulai nampak aib yang datangnya belakangan (baca : kekurangannya). Satu hal yang sering kita abaikan, yaitu membuat pasangan kita merasakan betapa pentingnya dia bagi kita dan memberi penghargaan kepadanya. Sehingga ketiadaan dan ada-nya menjadi sama-sama begitu berarti. Ironisnya sebagian orang lebih mudah mengingat kebaikan pasangannya pada saat tidak bersamanya dan sebaliknya lebih mudah menunjukkan kekurangan pasangan daripada kelebihannya ketika berdekat-dekatan dengannya. Monas terlihat elok saat di kejauhan, tetapi hanya terlihat dinding dan temboknya saja saat kita berdiri tepat di depannya. Allahu’alam.