Jangan Jadi Toxic Parents, Perhatikan Hal Ini

Jangan Jadi Toxic Parents, Perhatikan Hal Ini

MENJADI orangtua memang bukan hal yang bisa dipelajari dalam kelas, padahal prosesnya begitu rumit. Membutuhkan persiapan matang, emosi yang stabil, finansial dan fisik yang mumpuni. Setelah anak lahir, orangtua idealnya selalu belajar terutama dalam hal pengasuhan. Bukan hanya memenuhi kebutuhan materi saja, tapi juga emosi dan psikologisnya.

Setiap orang tentu ingin melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mulai dari nutrisi, pendidikan, hingga membantu menggapai cita-cita si kecil. Sayangnya, tanpa disadari beberapa orangtua melampaui keinginan mereka terhadap anak-anaknya. Alhasil, orangtua tidak berkompromi dengan anak, tidak pernah merasa bersalah dan minta maaf kepada anak, tidak menghargai anak, egois sebagai orangtua. Sikap tersebutlah yang dinamakan toxic parents.

Seperti apa ciri toxic parents? Dikutip dari Fimela jika muncul ciri ini, segera hentikan demi kestabilan mental dan masa depan anak.

1. Terlalu kritis

Banyak orangtua selalu mengkritik apapun yang dilakukan anak. Tidak peduli anak melakukan kesalahan sedikit maupun besar. Kritik pun terus dilakukan tanpa diimbangi dengan pujian dan motivasi. Beberapa orangtua merasa kalau hal tersebut dilakukan demi menggembleng mental anak, tapi yang muncul justru sebaliknya. Anak jadi merasa tak dihargai, tumbuh jadi pribadi yang kurang percaya diri dan selalu merasa rendah diri. Imbangi kritikan dan pujian. Jika memang anak melakukan hal yang positif, jangan ragu untuk menunjukkan kebanggaan.

2. Membenarkan perilaku yang salah

Anak melakukan kesalahan seperti membolos, memukul teman di sekolah atau merusak barang orang lain. Hal yang dilakukan orangtua malah membela anak tanpa ingin mencari tahu latar kejadian dan faktanya. Rasa sayang memang membuat kita ingin selalu melindungi anak, tapi hal ini bisa jadi bumerang baginya. Biarkan anak belajar dari kesalahannya dan bertanggung jawab. Jangan selalu jadi ‘penebus’ kesalahannya. Hal tersebut justru bakal melemahkan mental anak dan membuatnya jadi pribadi yang tak bisa bertanggung jawab.

3. Tidak membiarkan anak memperlihatkan emosi negatif

Emosi sangat beragam, bukan hanya kesenangan. Anak juga bisa sedih, kecewa, marah, stres, galau, dan masih banyak lagi. Hal tersebut tentunya merupakan hal normal karena anak akan mengalami masalah dan emosinya tak tertahankan.

Banyak orangtua yang tidak membiarkan anak jujur dengan emosi yang dirasakannya. Selalu menghibur, meminta anak memendamnya, padahal hal itu sangat tidak sehat. Biarkan anak merasakan kesedihan dan kekecewaan, karena dari situ anak akan belajar bagaimana ‘menyembuhkan’ kesedihan yang dialaminya dan mengenali emosinya. []

SUMBER: Islampos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Assalamu'alaikum..
Assalamu'alaikum..
Selamat datang di arsada, bantu kami untuk menolong yang lain.. ;)